Orang Jawa dan 'Makan Tak Makan Asal Kumpul'-nya
Makan Tak
Makan Asal Kumpul
Namaku Rahma. Aku asli lahir di Jepara, orangtuaku pun murni Jawa.
Menjadi orang Jawa memang unik dan menarik, dan aku menikmatinya. Kesantunan,
keramahan, dan tepo sliro alias tenggang rasa orang- orangnya sudah
bukan rahasia umum lagi. Kenal atau tidak kenal, kebanyakan kami akan tersenyum
bila berpapasan. Apalagi jika yang ditemui orang yang lebih tua, maka tak
jarang kami menundukkan kepala tanda hormat kami. Apabila bertamu pun, ada
adab- adab tak tertulisnya. Yang meskipun tak memiliki kontrak yang mengikat,
namun sebagian kami begitu mematuhinya. Di antaranya seperti pantang
menghabiskan makanan atau hidangan yang disajikan sang tuan rumah sampai
tandas. Misal si tuan rumah menyajikan 5 pisang goreng, maka alangkah lebih pantes
jika kami hanya mengambil sampai 2 atau 3 biji saja. Pun saat berpamitan dari
bertamu, kami akan berulang kali mengucapkan berbagai salam perpisahan. Mulai
dari nggih ngeten mawon, badhe pareng rumiyin (Ya begitu saja, mau pamit
dulu—red), lalu Assalamualaikum... dan saat sudah di ujung pagar pun
masih menyampaikan kata pareng (pamit—red) sekali lagi sembari
menundukkan kepala dan tersenyum riang. Masih baaanyak lagi “kontrak tak
tertulis” dari tradisi kami. Mulai dari perihal makan, duduk, berbicara, tidur,
dsb. Tentu saja kami bangga atas semua itu. Yang meskipun tak ada pembuktian
ilmiahnya, namun kebanyakan dari mereka benar adanya.
Namun ada hal lain yang dirasa perlu untuk diperhatikan. Lepas dari
kebiasaan baiknya, ada beberapa hal yang aku sebagai orang Jawa pun masih belum
bisa memahaminya. Di antaranya adalah kebiasaan orang tua kami yang sering
berkata pada anaknya, Nduk/ nang, sudah... Ndak usah mimpi keduwuren (Anakku,
sudah... Tak usah mimpi terlalu tinggi—red). Atau yang lainnya, semisal prinsip
makan tak makan asal kumpul.
Seorang sahabat baikku bercerita beberapa waktu lalu. Dia dan aku sama,
kami sama- sama mahasiswa pendidikan. Hanya aku dari universitas swasta, dan
dia negri. Saat ini, jumlah guru memang sudah melampaui batas. Sungguh tak
sebanding dengan ketersediaan pekerjaan yang ada. Dan sahabatku itu, sungguh beruntung
mendapat tawaran mengajar dari sebuah SMA swasta terkemuka di Semarang. Tetapi
syarat yang harus ditempuh adalah dia harus bersedia mengikuti training di
Jakarta, lalu dikirim ke Turki untuk belajar bahasa dan budayanya (SMA tersebut
memang menjalin kerja sama dengan Turki), kemudian ke Bosnia atau Rusia untuk
hal serupa, untuk akhirnya kembali mengajar di SMA tersebut. Sungguh sebuah
kesempatan emas, yang belum tentu bisa dua kali datang menghampiri. Namun yang
terjadi kemudian adalah ibunya tak merestui, tak memberi izin. Hanya karena
alasan sederhana; tradisi keluarganya adalah makan tak makan asal kumpul. Uang,
atau peendapatan, adalah perihal nomor sekian. Yang nomor pertama itu tadi.
Aku yang tak memiliki kesempatan itu saja sangat sesak ikut merasakan.
Namun dia berkata bijak, sebuah statement klasik, bahwa ridho gusti Allah ada
pada ridho orangtuanya. Sedih memang, tapi apa mau dikata.
Itulah hal yang sampai saat ini aku khawatirkan. Termasuk ibuku pun
sebenarnya demikian. Tapi aku masih bisa (baca:berusaha) mafhum dan toleran,
karena ayahku memang sudah tak ada. Dan ibu sudah tak muda lagi. Maka beliau
butuh betul seorang anak untuk menemaninya di rumah. Namun untuk kasus
sahabatku tadi, yang mungkin pula dirasa oleh kalian- kalian juga di sana, aku
begitu miris merasakannya. Entah karena tradisi orang Jawa atas makan tak
makan asal kumpul sudah mendarah daging dan mengakar kuat, atau entah
karena apa tak ada yang tahu pasti. Aku ngeri saja membayangkan jika hal- hal
seperti itu terus berantai- rantai turun- temurun sampai hari kiamat kelak.
Maka bukan tak mungkin, populasi orang Jawa di negeri antah berantah akan tetap
atau semakin menciut.
Bahwa dunia ini begitu luas, bahwa semakin kita menjelajah dan tau
keluasannya maka semakin terasa kecillah kita. Bahwa ada begitu banyak ilmu
yang tak akan kita dapat dengan berdiam diri di rumah, di kota kelahiran. Namun
juga bahwa ridho Tuhan ada pada ridho orangtua, bahwa surga ada di telapak kaki
ibu, dan bahwa keutamaan ibu tiga kali lipat lebih tinggi dari ayah.
Aku tak akan menutup tulisan ini dengan kesimpulanku, yang bahkan aku
sendiri pun tak yakin akan menyimpulkan bagaimana. Kututup saja dengan dua buah
bait, cukilan dari sang Imam besar Syafii, dan sebuah pepatah melayu lama yang
kuambil dari novel kenamaan Andrea Hirata, Padang Bulang.
“Orang berilmu dan beradab tak akan diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan
dapatkan pengganti saudara dan kawan. Berlelah- lelahlah, manisnya hidup terasa
setelah berjuang.”
(Imam Syafi’i)
“Nasihat ibu bak suara tuhan. Nasihat ibu, sering meragukan
awalnya, apa adanya, tak ilmiah, tak keren, tak penting, namun di ujung sana
nanti, pendapat yang hakikat itu pastilah nasihat ibu.”
(Padang Bulan)
Semoga apapun pilihan kita nanti, aku dan kalian, adalah yang terbaik.
Yang diridhoi orangtua kita, yang diridhoiNya, dan yang membawa kesuksesan dan
kebaikan dunia dan akhirat. Aamiin.
AAA, aku kalah cepat, rupanya kau sudah menuliskan tema ini lebih dulu. Oke fine. Buts I like this article. (y)
BalasHapusHahaha... yess. Boleh dikasi likenya di kolom donk, kakak.. haha.
BalasHapusSudah dong kakak, itu yg ngasih kan aku semua. Jangan lupa mampir di blog ane ya gan :D
BalasHapushaha.. Makasih, agan xD
BalasHapus