Karena Seumur Hidup Bukan Waktu yang Singkat

    

picture source: Pinterest


Beberapa minggu lalu, anak pertamaku masuk RS karena diare. Sebenarnya kami ingin menempati kamar untuk 1 orang saja, tapi karena saat itu RS penuh, akhirnya kami harus menempati satu kamar dengan pasien lain. Pasiennya sama, anak-anak juga seumuran anakku. Bedanya dia sakit Demam Berdarah.

Tapi yang ingin kuceritakan di sini bukan pasien anak itu, melainkan ibunya.

Tidak ada yang salah dengan ibunya. Dia baik, kami juga saling bercerita tentang banyak hal. Sayang tidak kutanyakan siapa namanya saat itu.

Di RS, ibu itu sendirian merawat anaknya yang sedang sakit, dan juga satu adiknya yang masih berusia empat tahun. Lompat-lompat, kesana kemari, ciri khas anak kecil seusianya.

Si ibu nampak kerepotan sekali. Di satu sisi harus merawat sang kakak, memaksanya makan dan lain sebagainya, di sisi lainnya, dia sungguh kerepotan ngemong si adik.

Coba kutanyakan, mengapa tidak bagi tugas saja? Misal adiknya dirawat ayahnya di rumah, dan ibunya yang di RS, atau sebaliknya. Sebagai informasi, saat dokter visit pun, beliau menyarankan agar si adik  di rumah saja supaya tidak tertular sakit dari yang lain.

Dia menggeleng, lalu bercerita panjang kali lebar.

“Aku salah pilih suami, Mbak…” ucapnya lirih.

“Eh, kok bisa begitu, Mbak?” aku menimpali.

“Aku dulu itu asalnya dari daerah yang ndesooo sekali. Orang-orang di tempatku, menikah selepas SD. Umur 18 belum menikah, dianggap perawan tua.”

Aku terperanjat. Kupikir kejadian seperti itu hanya ada di daerah 3T saja.

Dia melanjutkan, “Lalu akhirnya sekitar umur SMP aku putus sekolah, terus aku cari kerja ke Pati. Pokoknya di pikiranku Cuma satu, biar aku gak dinikahin. Akhirnya pas usiaku 18an, keluarga maksa aku buat cepet nikah. Yaudah Mbak, akhirnya aku nikah. Aku menikah itu gak tau tujuannya apa, seperti apa. Pokoknya aku nikah cuma karena harus nikah aja, Mbak.”

Aku mulai sedih.

“Yaudah, kalo sekarang kaya gini ya aku gimana lagi, ga bisa protes. Kalo mau bubar, aku bakal malu juga, Mbak. Cap janda di tempat asalku jelek. Suamiku kalo di rumah ga pernah Mbak, bantuin bersih- bersih, nyapu-nyapu atau apa. Tapi ya bagusnya, dia ga pernah protes kalo misal rumahku kotor.”


Hmmm, kali ini aku mulai emosi. ‘Bagusnya’ ibu ini bilaaaang? *emotikon menangis

Ibu itu omong-omong punya satu anak lagi, yaitu kakak dari pasien. Jadi di rumah, dia merawat 3 anak, membereskan rumah seisinya, tanpa bantuan suaminya sama sekali.

Dia lanjut bercerita. “Sekarang aku cari bekal sendiri buat matiku mbesok, Mbak. Karena aku tau, suamiku ga bisa diandalkan untuk bawa aku ke surga. Aku dulu gak TPQ, Mbak. Aku kalo pulang sekolah diminta orangtuaku ngarit. Alhamdulillah, sekarang di TPQ anakku ad akelas untuk ibu-ibu yang pengen belajar ngaji, Mbak. Aku ikut itu. Itu satu-satunya me-time-ku, Mbak. Aku seneng sekali, satu jam bisa sendiri, belajar. Bulan depan aku mau ikut IMTAS,” matanya berbinar- binar ketika menceritakan perihal TPQ dan IMTASnya itu.

Aku terharu dan bangga sekali mendengarnya.

“Aku terus mikir Mbak kadang, apa aku ambil paket B dan C ya kapan-kapan.”

Tanpa habis pikir, kusemangatinya habis-habisan.

“Waaahh, iya Mbak, ikut aja! Gapapa, pasti nanti seneng, karena belajar sesuatu yang baru lagi!”

Sore harinya, ketika suaminya menyusul ke RS, dia hanya mengajak anak perempuannya sebentar, membelikan jajan, dan lalu tidur di teras balkon. Ya, tidur.

Tidur tanpa dosa setelah istrinya sempoyongan mengurus 2 anak seharian tadi.

Sungguh aku terperangah, tapi bagaimana lagi, itu nyata.

Setelah mendengar semua ceritanya, saat itu juga ingin kutemui suamiku dan kuucapkan terimakasih. Terimakasih karena selama ini selalu membantu. Membantu pekerjaanku di rumah, apapun yang bisa dia lakukan.

Dari sini aku belajar banyak. Yang pertama jelas, belajar bersyukur.

Yang kedua, aku melihat langsung bahwa rumah tangga bisa semengerikan itu jika dilalui dengan satu orang yang hanya bisa memenuhi egonya sendiri. “Salah pilih” kalau kata ibu itu, meskipun aku tak paham, adakah istilah “salah pilih” untuk 2 orang yang menikah.

Malam harinya akhirnya kami berpisah, karena kami sama-sama pindah ke kamar untuk 1 pasien, dan ndilalah 2 ruangan kosong sudah tersedia.

Beberapa hari setelahnya, kami pulang juga di hari yang sama.

Seminggu setelahnya, saat kami kontrol di hari yang sama juga, kulihat ibu itu masih tetap kelelahan mengikuti kedua anaknya kesana kemari, entah dari kamar kecil atau apa, dan sang suami, duduk manis saja di depan ruang poli.

Ah, Ibu siapapun namamu, semoga pundak dan langkahmu dikuatkan selalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ory; Si Anak Hebat yang Selalu Tak Percaya Diri

drg.Zulfikar

Monday Extensive Speaking