A Reflection: Teach You a Lesson
Teach You a Lesson adalah sebuah drama Korea yang menggambarkan wajah pendidikan modern dengan segala kompleksitasnya: perundungan, kenakalan remaja, narkoba, kekerasan, krisis moral, campur tangan orang tua yang terlalu dalam, guru yang kehilangan wibawa, hingga persoalan mengenai bagaimana hukum memperlakukan anak sebagai pelaku kejahatan di bawah umur.
Karakter sentral dalam drama ini adalah Na Hwa-jin yang diperankan dengan sangat apik oleh Kim Mu-yeol, Im
Han-rim yang diperankan Jin Ki-joo, dan Bong Geun-dae yang diperankan oleh P.O. Mereka merupakan satu tim yang berada di bawah naungan Badan Perlindungan Hak Pendidikan (BPHP),
sebuah badan yang dibentuk oleh Kementerian Pendidikan Korea Selatan sebagai
respons terhadap semakin parahnya kasus kenakalan remaja.
Na Hwa-jin dan Im Han-rim merupakan mantan tentara, sehingga
keduanya memiliki kemampuan fisik dan mental yang sangat kuat. Sementara itu,
Bong Geun-dae adalah seorang ahli komputer dan jaringan. Dengan kemampuan yang
berbeda, mereka bekerja menghadapi berbagai kasus yang tidak mampu diselesaikan
melalui mekanisme pendidikan konvensional.
Menariknya, BPHP diberikan ruang gerak yang sangat luas. Mereka
tidak dibatasi oleh metode-metode yang biasanya digunakan dalam menangani siswa
bermasalah. Tentu saja, cara mereka bekerja kemudian menimbulkan banyak
kontroversi dan kritikan. Mereka dituduh melanggar hak asasi manusia, melakukan
kekerasan terhadap anak, bahkan bertindak di luar batas hukum.
Dan di situlah menurut saya bagian menariknya.
Salah satu bagian yang paling membekas bagi saya adalah ketika
Menteri Pendidikan menjelaskan alasan di balik pembentukan BPHP. Beliau berkata,
“Murid adalah mereka
yang mau belajar dengan baik. Mereka yang melakukan kenakalan dan kejahatan,
bukanlah seorangmurid. Mereka adalah monster. Dan apakah kita akan meminta guru
melawan monster hanya dengan kapur? Monster hanya dapat dilawan oleh monster.”
Kalimat yang sangat tajam namun bermakna.
Sebagai seorang guru, saya bisa memahami mengapa kalimat tersebut
terasa begitu dalam.
Ini bukan berarti anak-anak yang melakukan kesalahan harus dianggap
tidak memiliki harapan. Bukan pula berarti kekerasan adalah solusi pendidikan.
Namun, ada kenyataan yang kadang tidak nyaman untuk kita akui: guru
tidak selalu berhadapan dengan masalah yang dapat diselesaikan hanya dengan
nasihat, motivasi, atau pendekatan pedagogis di sekolah.
Ada kondisi ketika seorang guru sudah mencoba berbicara baik-baik.
Sudah menasihati.
Sudah memberi kesempatan kedua.
Sudah melibatkan wali kelas, konselor/ pembimbing di sekolah
masing-masing, bahkan orang tua.
Tetapi masalah tetap berulang.
Di sisi lain, guru juga sering kali berada dalam posisi yang serba
salah. Ketika terlalu tegas, guru dianggap melakukan kekerasan. Ketika
memberikan konsekuensi, guru dianggap melanggar hak anak. Ketika membiarkan,
guru juga dianggap tidak peduli.
Lalu, siapa yang sebenarnya melindungi guru?
Tak heran jika banyak guru yang kehilangan wibawa dalam menjalankan
tugas profesionalnya.
Belum lagi, kita juga hidup di masa ketika kasus perundungan bukan
lagi sesuatu yang bisa dianggap sepele. Kita juga berhadapan dengan krisis
moral, penyalahgunaan narkoba, keterlibatan remaja dengan kelompok kriminal,
serta berbagai bentuk kenakalan remaja yang semakin kompleks.
Hal ini semakin diperburuk dengan adanya banyak orang tua masa kini
yang kehilangan kepercayaan terhadap sekolah sehingga terlalu jauh mencampuri
proses pendidikan anaknya dengan dalih ‘melindungi’ dan ‘tahu yang terbaik bagi
anaknya’. Padahal, sejatinya guru adalah orang tua kedua mereka di sekolah.
Pendidikan memang bukan tanggung jawab sekolah saja. Orang tua di rumah memiliki
andil yang lebih besar, karena merekalah pihak pertama dan utama yang menanamkan
nilai-nilai kehidupan dari rumah.
Namun ketika
anak berada di lingkungan sekolah, semestinya ada kepercayaan dan penghormatan
terhadap peran masing-masing. Orang tua dan sekolah seharusnya menjadi mitra
yang saling menguatkan, bukan pihak-pihak yang saling mencurigai.
Perlindungan terhadap anak pun harus tetap berjalan dalam koridor yang tepat. Jangan sampai atas nama “perlindungan anak di bawah umur”, batas antara melindungi, memaklumi, dan membenarkan kesalahan menjadi semakin kabur. Sebab, melindungi anak bukan berarti menjauhkan mereka dari setiap konsekuensi, melainkan memastikan bahwa setiap konsekuensi yang mereka terima tetap adil, mendidik, dan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Dan bukankah memahami konsekuensi adalah bagian penting dari proses menjadi dewasa?
Ada satu kalimat lain dari mendiang guru Choi Ga-yoon yang juga
sangat membekas bagi saya:
“Dunia akan hancur jika
orang dewasa takut kepada anak kecil.”
Sederhana, tetapi dalam sekali.
Bagi saya, kalimat ini bukan ajakan untuk menjadi orang dewasa yang
keras kepada anak-anak.
Justru sebaliknya.
Orang dewasa seharusnya cukup dewasa untuk berani mengatakan, “Kamu
salah.”
Ketika seorang anak melakukan kesalahan, tugas kita bukan selalu
mencari cara untuk melindunginya dari konsekuensi. Kadang-kadang, bentuk
perlindungan terbaik justru adalah membiarkan mereka menghadapi konsekuensi
yang mendidik.
Orang tua tidak seharusnya selalu menjadi tameng.
Guru juga tidak seharusnya selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Dan anak tidak seharusnya selalu ditempatkan sebagai pihak yang
harus dibela, bahkan ketika ia jelas-jelas melakukan kesalahan.
Anak-anak membutuhkan orang dewasa yang berani memberikan batas.
Mereka membutuhkan teladan.
Mereka membutuhkan seseorang yang mengatakan bahwa benar adalah
benar dan salah adalah salah.
Sebab bagaimana seorang anak akan belajar membedakan keduanya jika orang-orang dewasa di sekitarnya selalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya?
Setelah menyelesaikan 10 episode drama ini, saya justru sampai pada
satu kesimpulan yang cukup sederhana:
Pendidikan yang ideal tidak akan pernah terwujud hanya dengan
mengandalkan guru.
Guru memang berada di garis depan. Tetapi guru bukan satu-satunya
pemain.
Ada orang tua.
Ada masyarakat.
Ada lingkungan.
Dan, yang paling penting, ada pemerintah.
Saya semakin merasa bahwa salah satu kunci terbesar untuk
memperbaiki pendidikan adalah keseriusan pemerintah dalam membangun sistem yang
benar-benar melindungi seluruh ekosistem pendidikan, termasuk guru.
Guru membutuhkan rasa aman untuk menjalankan tugasnya.
Guru membutuhkan penghargaan.
Guru membutuhkan hak-haknya yang terpenuhi.
Guru membutuhkan sistem yang jelas ketika menghadapi siswa
bermasalah.
Guru juga membutuhkan dukungan ketika mengambil keputusan yang
benar demi kepentingan pendidikan.
Di sisi lain, murid juga berhak mendapatkan sekolah yang aman,
lingkungan belajar yang sehat, serta perlindungan dari kekerasan dan berbagai
bentuk penyalahgunaan.
Melindungi anak tidak berarti mengorbankan guru. Melindungi guru
juga tidak berarti mengabaikan hak anak.
Yang kita perlukan adalah sistem pendidikan yang mampu melindungi
keduanya secara adil.
Satu pertanyaan besar yang mungkin bisa kita tanyakan sekarang adalah,
“Pendidikan seperti apa yang sebenarnya ingin kita wariskan kepada
generasi setelah kita?”
Komentar
Posting Komentar