Tanpa Judul

 Ahad, 13 September 2026. Di hari itu aku sibuk sekali. Banyaaak pekerjaan sekolah yang harus kukerjakan. Pembuatan 3 soal UTS, kisi-kisi, dan pembuatan soal ulangan harian juga.

Sedari pagi, aku sibuk sekali. Aku bahkan bangun jam 3 pagi untuk bisa menyelesaikan semua tanggung jawabku di hari itu. Aku bekerja, mengetik dan mengetik.

Di tengah-tengah bekerja, aku merasa jenuh, lelah sekali.

Aku ingin turun ke lantai satu rumahku untuk minum air dingin dan makan kue lapis yang aku beli dari mbak sayur di pagi harinya.

Aku tergesa, tidak sabar. Setengah berlari aku berjalan menuruni tangga.

Lalu di anak tangga yang hampir mencapai lantai bawah itu, tiba-tiba aku kehilangan keseimbangan. Kakiku terkilir. Aku bahkan bisa mendengar suara “CEKLEK” keras dari tulang metatarsal kaki kananku. Aku mengaduh kesakitan, bersimpuh di lantai.

Tak lama dari itu, kudapati kaki kananku mulai nampak memar, menghijau.

Sakit dan nyeri sekaligus, saat aku coba menapak sempurna.

Pikiran kalut mulai menghantui. Patahkah?

Aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini mungkin hanya terkilir, tapi akhirnya rasionalitas mengalahkan semuanya. Aku berangkat ke IGD Rumah Sakit sendiri, naik motor.

Sampai sana kusampaikan semuanya, lalu aku meminta rontgen.

Sekitar 15 menit menunggu hasil, aku terus-menerus membaca solawat.

Dan hasilnya… Ya, aku mengalami fraktur di ruas jari ke-4 dan 5.

Ya Allah. Dunia serasa gelap.

Baru saja beberapa bulan lalu aku menjalani operasi lepas pen, setelah sebelumnya setahun lalu aku mengalami patah tulang siku kiri karena kecelakaan. Dan sekarang, ini yang terjadi.

Kata dokter IGD, kemungkinan aku harus menjalani operasi (lagi).

Namun setelah beliau berkonsultasi dengan dokter tulang, syukurlah dokter tulang mengatakan:

Tidak ada pembedahan, nanti kita gyps saja.”
Aku merasa ada angin segar surgawi. Luar biasa, alhamdulillah.

Aku bahagia, merasa siap diapakan saja asal tidak dioperasi.

Kukira pagi itu aku masih bisa pulang dulu, tetapi ternyata tidak.

Aku langsung diinfus untuk persiapan pemasangan gyps keesokan harinya.

Singkat cerita, selesai sudah aku digyps di ruang operasi dengan bius total.

Saat sadar aku sudah berada di ruangan, dengan kaki kanan dibalut gyps.

Pertama yang aku rasakan, aku terkejut. Ternyata gyps terasa berat, tidak seperti yang kukira selama ini.

Kedua, aku lebih kaget lagi mengetahui fakta bahwa ke depannya aku harus 6 bulan menjalani non-weight bearing, tidak boleh menapakkan kaki kanan ke lantai untuk menumpu beban tubuh sama sekali. Ya, enam bulan, bukan enam minggu. 240 hari, dan di hari aku menulis ini, baru hari kedua pasca operasi. Masih aka nada 238 hari lagi.

Ketiga, aku juga kaget mengetahui bahwa memakai crutch atau kruk sebagai alat bantu jalan, ternyata tidak semudah itu. Kaki salah satu krukku bahkan melesat saat aku mencoba memakainya untuk berjalan. Akhirnya, untuk sementara ini aku memakai walker.

Aku seperti baru menyadari, this is not that easy.

Berjalan dengan kaki yang selalu harus ditekuk 1 ternyata tidak mudah sama sekali .

Teman-teman, sebagai informasi, ini sudah kali ke-tujuh aku memasuki ruang operasi.

Yang pertama dulu adalah ketika aku masih gadis, tahun 2013 silam. Aku menjalani operasi sinusitis yang menyakitkan. Daging di dalam hidungku dipotong sebagian (karena sudah membesar dan menghalangi jalan nafas disebabkan oleh rhinitis yang terlalu lama), lalu sinus maksilaris kiriku (bagian tulang pipi kiri) dibersihkan. Kalian tau lewat mana dokter membersihkannya? Ya, lewat atas gusi kiriku. Atas gusiku disobek, lalu dokter membersihkannya, dan kemudian dijahit kembali. Proses pemulihannya lumayan lama, kurang lebih 2 bulan setelah operasi. Jangan tanyakan rasa sakitnya seperti apa.

Lalu di tahun 2016, saat aku sudah memiliki anak pertamaku Azka, aku kembali harus masuk ke ruang operasi untuk menjalani operasi keduaku, yaitu operasi amandel. Lalu 2019, setelah aku melahirkan anak keduaku Nizar, aku harus menjalani operasi ketiga, kuretase, karena nifasku tak mau bersih.

Di 2023, aku menjalani operasi keempat, yaitu operasi wasir, karena wasirku sudah stadium 4 dan sangat menyiksa. Lalu di 2025, aku kecelakaan dan menjalani operasi ke-5, pemasangan pen.

Di 2026, Mei lalu, aku menjalani operasi kembali untuk melepas pen. Ini menjadi operasi keenamku.

Lalu di 2026 lagi, beberapa hari lalu, meskipun tidak dibedah, ternyata aku harus masuk ruang operasi lagi untuk yang ketujuh kali untuk menjalani pemasangan gyps kaki kananku.

Doaku, semoga ini kali terakhir aku masuk ke ruangan yang dingin itu. Sepertinya sudah cukup, ya Allah

Seorang teman bertanya, “Pernah tidak bertanya-tanya kenapa hidupmu sial terus?”

Aku menjawab, “Tolong jangan berkata seperti itu. Nikmat yang diberi Allah pun banyak sekali, aku tidak selalu sial.”

Ya, terkadang memang manusia lebih mudah untuk fokus pada hal-hal buruk yang terjadi saja, sampai lupa dengan nikmat tak terhingga yang sudah tuhan berikan. Semoga kita tidak seperti itu.

I’m not labelling myself as a bad luck, no.

Doaku, semoga dalam menjalani 238 hari ke depan, aku diberikan kekuatan sepenuhnya. Semoga aku tetap bisa kuat, tetap semangat dan ceria. Dan semoga, scene-scene indah akan mengisi kisah hidupku dan keluargaku selanjutnyaa, menggantikan semua scen-scene sedih yang sudah kusebutkan tadi, aamiin allahumma amin.

Laa hawla walaa quwwata illa billaah…

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ory; Si Anak Hebat yang Selalu Tak Percaya Diri

Portofolio Guru Kreatif - ACER Smart School Awards 2025

drg.Zulfikar