Postingan

Kakak Tak Harus Mengalah

Gambar
“Kamu kan kakaknya, ya harus ngalah!” Kalimat seperti itu mungkin sangat sering kita dengar, atau mungkin kita ucapkan (?). Anak pertama yang tentu lebih besar, sering dianggap sebagai ‘anak anti badai’ yang harus bisa diajak kompromi, terlebih dalam menghadapi adik yang lebih kecil. Kurang lebih dua tahun lalu, saat anak besarku Azka masih duduk di bangku TK kecil, dia sempat mengalami semacam gangguan kecemasan yang berlebihan. Azka menurutku sudah tidak baik-baik saja saat itu. Selama berminggu-minggu, dia selalu murung dan overthinking . Sering menangis sendiri, bahkan kadang sampai memikirkan tentang kematian dan lain sebagainya. Hal-hal “aneh” yang seyogyanya tidak dipikirkan anak seusianya, dia pikirkan, seperti “Ibuk, gimana kalau nanti Kaka besar, ada orang mati, Kaka gak bisa ngurus? Kaka takut kalo ga bisa,” ucapnya suatu hari sambil menangis. Ada banyak lagi hal-hal aneh yang menurutku tidak perlu dia pikirkan. Pernah juga suatu saat dia bercerita bahwa ada seora...

Bapakku

Gambar
  Beberapa hari lalu selepas sholat tarawih, seorang teman bapak mertua saya datang ke rumah. Setelah minum kopi dan mengobrol sekian lama, akhirnya teman bapak tersebut undur diri. Ketika bapak mengantar tamunya ke depan rumah, kebetulan saat itu saya sedang berada di depan rumah. Lalu bapak berkata, “Iki yo mantuku, ngene (menjempolkan jarinya).” Saya cuma senyum- senyum saja tersipu malu. Sebagai informasi, bapak memang selalu berkata begitu pada semua orang. Beliau selalu berkata bahwa saya adalah menantu yang baik, yang merawat bapak dengan baik. Keesokan harinya, sembari mengerjakan setumpuk pekerjaan rumah tangga, tiba-tiba saya teringat kembali dengan kejadian itu. Dan lalu flashback , malah mengingatkan saya pada yang lainnya. Saya menjemur baju sambil menangis mengharu-biru. Pertama kali saya datang ke rumah ini di tahun 2015, Bapak mengajak saya ke kamar saya, mendudukkan saya dan berkata “Wis, mulai saiki kowe dadi anakku ya.. Iki kamarmu. Wis, gak opo-opo.” Bap...

Multi-Bahasa dalam Kelas

Gambar
Sebagian dari kita mungkin berpikir, keikutsertaan dalam seminar (baik tatap muka maupun  webinar ) hanyalah formalitas belaka. Yang penting ikut… Yang penting dapat sertifikat… atau mungkin Yang penting dapat kenalan. Tidak ada yang salah dari itu semua, sah-sah saja. Sama seperti halnya ketika orang melakukan hal baik, bukan? Ada yang mengerjakannya karena ingin mendapat pahala, ada yang ingin masuk surga, atau ada yang ingin terlihat baik saja. Dan semua itu boleh- boleh saja, toh dia tetap melakukan sebuah kebaikan. Beberapa waktu belakangan, saya merasa senang sekali karena merasa sudah mendapatkan platform yang tepat untuk belajar, yaitu di British Council (BC). BC merupakan organisasi dari Inggris dimana salah satu fokusnya yaitu pada pengajaran Bahasa Inggris. Para guru, terutama guru Bahasa Inggris, bisa mengakses rancangan pembelajaran, ide mengajar, podcast hingga mengikuti webinar . Dalam tulisan kali ini, saya ingin membagikan sedikit tentang sebuah kegiata...

Gentle Discipline in Classroom Management

Gambar
  Yesterday, I joined three webinars from British Council. So guys, if you are English teachers, or you are interested in teaching, I do suggest you to join this “club”. Open the link teachingenglish.org.uk then register. It’s free, you can look for thousands of lesson plan and fun activities there, and once you’ve been registered, you can access its monthly newsletter (it’s sent through email) and join its free webinars just like I did! The seminars were “Setting up Activities and Tasks Efficiently in 5 Steps” by Ela Moyle, “Gentle Discipline in Classroom Management” by Zahra Zuhair, and “Creating Your Own Learning Materials – Six Easy Steps” by Desislava Duridanova. For me personally, the webinar from Zahra from Bahrain was the greatest one. Zahra is an ESL teacher (with a DELTA qualification) with the British Council since 2014 and a graduate of International Relations (MA) from the University of Leicester. She is also a researcher on various subjects related to teaching. On...

Monday Extensive Speaking

Monday Extensive Speaking 3 Monday Extensive Speaking (MES) is one of newest programs launched by Yayasan Pendidikan Raudlatul Ulum (YPRU) besides Tahfidz, Multimedia Activities, Special Class, and others. Its presence is as a proof that YPRU always keeps improving, in a line with its motto, “One steap ahed in both ‘ ilmu amaly and amal ilmy .” MES is a program delivered by Syaikh Ahmad Ragab Abdela Dessouki from Egypt in every two weeks, and it talked about Islamic things in English            . There are two sessions in every MES meeting; the material delivery and the Q&A session. Monday, October 10 th 2022 was the third meeting of MES, and Syaikh took “The Secret of Tajwid Rules” as the topic. The secret here meant the reasons of the rule. Syaikh asked students in the beginning, “You learn all tajwid rules and you know them, right? But do you know why? Why is idzhar pronounced clearly, while ikhfa’ is not? Anyone knows?”...

MES Second Meeting

Gambar
    Today was the second meeting of Raudlatul Ulum’s new program called Monday Extensive Speaking (MES) with Syaikh Ahmad Ragab Abdela Dessouki from Egypt. I find this second meeting much more interesting than the first one. Syaikh told us not only about tajwid, but also about the history of Al-Qur’an, the process of its journey into us today. In its first coming, Al-Qur’an was delivered by Jibril to Prophet Muhammad verbally, then our Prophet memorized it. The way to recite Al-Qur’an just the way it was. There were no idgham , ikhfa , and others like what we know today. For the next generations, especially those who live outside Arab, it is hard to know how to recite Al-Qur’an the same like what The Prophet did then. That is why, tajwid exists. “ Tajwid ” is actually derived from an Arabic word “ jayyid ” which means improvement. It was made to help us to recite Al-Qur’an the way Rasulullah Muhammad SAW did. Why should we do? Because Al-Qur’an is special; It is the words ...

Merdeka Belajar

Gambar
Dear, Bapak- Ibu guru dan orangtua di rumah... Apakah Bapak dan Ibu masih sering merasa frustrasi ketika anak- anak mendapatkan nilai jelek? Atau malah menghukumnya?   Perkenalkan, saya adalah seorang ibu sekaligus guru. Di rumah, saya memiliki 2 anak laki- laki dan di sekolah, saya memiliki ratusan murid. Selama ini, saya selalu berharap mereka semua mendapatkan nilai- nilai yang baik. Sebenarnya ini bukan sebuah kesalahan, ini normal. Tapi, ini juga tidak sepenuhnya sebuah kebenaran.  Jika Bapak/ Ibu saat ini berusia sekitar 30 tahun (atau bahkan lebih), maka mungkin Bapak/ Ibu adalah  millenials . Sebagai informasi, generasi milenial adalah mereka yang lahir pada rentang tahun 1980- 1995.  Dalam era belajar kita dahulu, bisa dibilang bahwa nilai adalah segalanya. Jika kita menjadi 5 besar di kelas, maka orang akan menganggap kita siswa yang pintar. Pada era kita juga, Ujian Nasional (UN) adalah segalanya. Tidak peduli seberapa pintar atau rajin seseorang, jika...