Postingan

Agreement Maxim

Human as social creature surely stay relates to others. Within this relation, sometimes there is a friction caused of differences that people cannot deny, though they already know that everybody in this world actually never be the same. Yesterday I reread a book of mine when I was in college entitled Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics that was written by Jenny Thomas. One of its chapters discusses the Agreement Maxim which says "Minimize the expression of disagreement between self and other; maximize the expression of agreement between self and other." What a nice statement! Today, people are so busy to trouble themselves of something that should not be confused of. When Ramadhan comes, people (especially in social media) are busy claiming which Ramadhan beginning is the truest according to their version. However, it is actually the case of belief. Whether they want to fast first following the Islamic mass organization, or they want to follow the go...

Terjemahan Lagu Greenday "Last Night on Earth" dalam Bhs Jawa :D

"Last Night on Earth" (Wengi terakhir ing Alam Donyo) I text a postcard sent to you (Aku wis ngirim kartu pos marang awakmu) Did it go through? (Opo uwis tekan?) Sending all my love to you (tak kirim sakabehing tresnaku marang awakmu) You are the moonlight of my life every night (Kowe cahyaning rembulan ing uripku saben wengi) Giving all my love to you (tak wenehke kabeh tresnaku marang awakmu) My beating heart belongs to you (Tratabaning ati iki kanggo awakmu) I walked for miles 'til I found you (Aku wis mlaku ra itungan mil nganti nemu awakmu) I'm here to honor you (Aku ning kene ngajeni awakmu) If I lose everything in the fire (Umpomo aku kelangan kabeh mergo kobongan) I'm sending all my love to you (Duweku kabeh mung tresno iki, tak kirimno marang awakmu) With every breath that I'm worth here on Earth (Jroning saben ambegan kang gawe aku mulyo ing donyo iki) I'm sending all my love to you (Aku ngirim kab...

I'm not a Teacher and I'm still Happy

Gambar
Manusia memang tukang ngajak ribut. Bukan hanya dengan sesamanya saja, tapi juga dengan tuhannya sendiri. Sudah diberi tahu sejak dulu, bahwa apapun yang terjadi adalah kehendakNya. Tetapi tetap saja meratap tak habis- habis. Sudah diberi tahu, bahwa jalanNya tidak akan sekalipun pernah salah, namun tetap saja sering tak terima. Contohnya? Ya saya ini (hahaha..). Iya, saya juga sama saja begitu. Karena saya manusia. Bukan sekedar manusia biasa, tetapi kelewat biasa. Lulusan IKIP seperti saya ini, pasti identik dengan masa depan sebagai guru atau dosen. Mulai H+1 wisuda, pasti akan ditanya kesana kemari; “Sekarang ngajar di mana?” . Nyeseg? Awalnya pasti iya. Baru baru saja lho bisa “sembuh” dari nyesegnya. Belum mengajar sampai sekarang bukan berarti saya tidak setia dengan pilihan saya untuk mengabdi pada bidang pendidikan, bukan. FYI , saya sudah mendaftar di kurang lebih 13 sekolahan di kota Kudus. Tetapi hasilnya nihil. Apa ini berarti saya bodoh? Ah tidak. Insya Allah ...

Tak ada Rizqi yang Biasa

Gambar
Rizqi adalah sebagaimana jodoh, dan sebagaimana pula usia. Semua telah tertulis dalam kitabNya. Namun mentafakkuri nikmat, bersyukur atasnya, adalah hal yang tidak semudah seharusnya. Seringkali dari kita merasa selalu kurang, merasa tak pernah cukup, tak pernah puas. Seakan lupa, bahwa masih banyak orang lain yang menginginkan menjadi kita. Jika saja ‘nafas’ yang kita hirup setiap waktu tanpa tahu diri ini dianggap rizqi yang biasa saja, maka ingatlah mereka yang mengantungkan hidupnya pada tabung oksigen. Jika ‘harta’ dianggap tak ada padahal ada namun tak banyak, maka ingatlah mereka yang setiap hari setengah mati mengumpulkannya receh demi receh. Posisi profesi sebagai salah satu kendaraan utama penjemput rizqi juga masih sering dikotak- kotakkan. Ada profesi versi keren dan versi tak keren . Padahal yang ada adalah, bahwa semua yang ada di muka bumi ini saling bersinambungan.       Dokter membantu menyembuhkan orang sakit, lalu memberi resep untuk di...

Kampanye: Jangan Bandingkan Apel dengan Anggur

Musim pemilu sedang gencar- gencarnya berlangsung. Tua- muda, laki- perempuan, tahu- tidak tahu, semua terserang euforia gembar- gembor capres idaman. Saya pribadi tentu punya pilihan dalam pemilu kali ini. Pun begitu saya tak mau terlalu lebay alias berlebihan. Karena siapapun yang terpilih, toh insya Allah sudah diambil dari dua bapak terbaik bangsa ini. Insya Allah, saya jatuhkan pilihan saya kelak pada bapak Jenderal Baret Merah, Bapak Prabowo Subianto. Anda pasti bertanya kenapa? Dan saya lalu bisa juga menjawab kenapa tidak . Lalu anda pasti akan mengingatkan saya tentang penculikan, HAM, kediktatoran, keotoriteran, dan hal lain yang sejenisnya. Terima kasih sudah mengingatkan, mungkin nanti bisa saya pertimbangkan lagi. Karena saya sudah mengatakan pilihan saya adalah bapak Prabowo, maka sekalianlah saya tulis kali ini. Indonesia seperti yang kita tahu, dulu pernah mengalami masa Orde Baru. Sebagai bentuk perlawanan setelah 32 tahun berjayanya Orde Baru, semua orang m...

'Seringkali' Tak Suka, tapi 'Selalu' Kami Cinta; IBU

Gambar
Judul di atas mungkin tepat untuk merefleksikan apa yang saya dan anak seluruh dunia rasa, atau paling tidak, pernah merasa. Ibu sebagaimana kita tahu adalah kepanjangan tangan Tuhan untuk merawat kita di dunia. Diusahakan, dikandung, dilahirkan, disusui, dirawat, dibesarkan, dididik, diajar, dibimbing, dinasehati, adalah bentuk karunia luar biasa yang anak rasakan pada umumnya rasakan, termasuk saya. Alhamdulillah, Alhamdulillahi katsiro untuk bentuk karunia yang satu ini. Meski begitu, seperti suatu keniscayaan saja bahwa setiap anak pasti memiliki segudang salah terhadap ibunya. Pun saya sendiri. Tak akan cukup mungkin jika dituangkan dalam tulisan ini. Jika ingat bahwa dulu begitu sering membuat ibu menangis, rasanya hati ini seperti tersayat L . Semoga Allah mengampuni saya, dan ibu. Aamiin. Seringkali saya merasa tak suka pada sikap ibu; yang meskipun saya tahan, tapi ibu pasti tahu. Ibu sangat tegas yang kadang terkesan galak, disiplin, diktator, dan perfeksionis...

Rindu Suguhan Berita Baik dalam Negri

Gambar
Menyaksikan tayangan berita di televisi memang sudah menjadi bagian dari rutinitas hidup kita sehari- hari. Terdapat beragam pilihan waktu penayangan, mulai dari pagi petang hingga akhir malam. Tak lain dan tak bukan, tujuannya pastilah untuk memenuhi asupan informasi terbaru yang kita semua butuhkan. Namun seringkali saya pribadi merasa miris bahwa pada kenyataannya kebanyakan berita yang ditayangkan adalah beragam hal yang mengerikan atau menyedihkan. Mulai dari kasus korupsi, perampokan, pencurian, pembunuhan sadis, tawuran, kekerasan seksual, penjualan manusia, dan lain sebagainya yang lengkap tersaji setiap waktunya. Benar bahwa memang apa yang diungkap adalah fakta yang tak diragukan lagi keabsahannya. Namun seakan ada nuansa bahwa tak ada lagi hal baik yang bisa diberitakan dari negeri tercinta ini. Saya mengapresiasi betul, ada beberapa program talkshow yang telah mengusung segala kebaikan dalam negeri seperti program Kick Andy . Tetapi yang saya maksudkan di sini adala...