Postingan

Bahasa Pertama, Bahasa Ibu, Bahasa Cinta

Gambar
  Indonesia memiliki kurang lebih 652 bahasa daerah. Dengan begitu dapat dianggap bahwa di negeri ini, bahasa daerah adalah bahasa pertama, Bahasa Indonesia adalah bahasa kedua, dan bahasa asing adalah bahasa ketiga (bila diajarkan). Meskipun begitu, tentu saja kita tidak bisa meng- general -isasikan bahwa semua seperti itu. Selalu ada pengecualian dalam hampir setiap kasus, bukan? Di kota besar seperti Jakarta, mungkin bahasa Indonesia adalah bahasa pertama, bukan kedua. Saat ini pula, banyak orang tua—terutama kalangan “atas”—yang menyekolahkan anaknya di sekolah- sekolah internasional. Di sekolah semacam itu, kita tahu bahwa bahasa keseharian yang digunakan adalah Bahasa Inggris. Bahkan terkadang beberapa dari anak- anak itu tidak terlalu fasih berbicara Bahasa Indonesia. Mereka lebih lancar berbahasa asing, Bahasa Inggris. Sebaliknya, di daerah- daerah yang masih kuat muatan nilai- nilai lokalnya, bahasa daerah masih menjadi dewa. Mereka yang mengajarkan anaknya Bahasa Indo...

Wanita dan "Pekerjaannya"

Gambar
  Risiko hidup dalam   budaya patriarki, wanita selalu dianggap berada dalam posisi inferior . Kalian pasti pernah mendengar, atau mengalami sendiri, beberapa kalimat yang sering terlontar di antara masyarakat kita seperti “Ayo ndang nikah, lee... Ben ono sing masakke, gak masak- masak dewe.” Atau mungkin ketika seorang lelaki berbelanja, mungkin akan kalian dengar, “Istrinya kemana mas? Kok belanja sendiri.” Beberapa kalimat seperti itu, menempatkan posisi bahwa seakan- akan, lelaki itu haram melakukan pekerjaan- pekerjaan rumah tangga seperti itu. Bahwa setumplek blek pekerjaan rumah tangga itu wajib hukumnya, hanya dan akan selalu hanya, dilakukan oleh perempuan—atau istri— dalam sebuah rumah tangga. Apakah saya sedang curhat? Oh Alhamdulillah tidak. Saya sangat bersyukur top to toe, to the moon and back, saya berada dalam lingkup laki- laki yang demokratis sekali. Dalam rumah tangga saya, saya adalah satu- satunya wanita. Selain saya, ada bapak mertua...

The Godfather of Broken Heart and His Heritage

Gambar
  Several days ago, Indonesians were so sad of their loss. One of their dinosaurs of Campursari (Javanese traditional song) was gone. He was Didi kempot, whose original name was Dionisius Prasetyo. Didi who was born in Surakarta on December 1 st 1966, once wandered about into Jakarta before he finally made it and traveled to Suriname, Dutch, and some other countries in Europe. Everyone in Indonesia cannot deny that Lord Didi (people call them “Godfather of Broken Heart” since most of his songs are about heart breakings) gave a very big influence of Javanese language. He succeeded to show it to the world. Now Javanese people are proud of their native language. No more shame on it. Talking about languages, each of them must have several accents. For instance in England, we know there are some accents just like Northern accent, Southern accent, Cockney accent, or the Received accent (usually called the Queen accent). Meanwhile, how about the posh accent? Have you eve...

My Labor Story (Cerita Persalinanku)

Kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman melahirkan anak kedua saya, Muhammad Nizar Alauddin. Hari Senin lalu, tepatnya tanggal 15 Juli 2019, saya terbangun jam 3 pagi karena merasakan ada air ketuban yang pecah dari jalan lahir. Setelah itu saya segera ke kamar mandi, menunggu, dan betul setelah itu diikuti dengan 2 kali kucuran air ketuban lagi. Saya lumayan mengerti karena proses ini sama persis seperti ketika saya akan melahirkan anak pertama saya dulu. Namun bedanya dengan yang dulu, kali ini air ketuban saya pecah dalam keadaan sudah berwarna hijau. Tentu bukan merupakan hal yang baik. Setelah beberapa saat, kontraksi tidak teratur mulai datang. Saya segera membangunkan suami saya dan mengajaknya ke faskes secepat mungkin. Setelah diskusi singkat, akhirnya kami memutuskan untuk ke rumah sakit saja yang jaraknya lebih dekat daripada ke rumah ibu bidan tempat saya biasa kontrol kehamilan. Sesampainya di rumah sakit, kontraksi yang datang semakin intens. Dan dengan cepat, ...

The Dilemma of KKM

Gambar
Being a teacher has been my dream since I was a child. Imagining to be with students, blend myself to them, make interesting teaching media, all are impeccable. And now here I am. I am a teacher. Specifically, an English teacher. You may say my dream comes true. I do enjoy my daily activity. I love my job, I love my students. But you know what, there is something which makes me sad and worry about our education today. This is the students’ lack of passion and curiosity in learning . It does bother me recently. I feel from day to day, our education quality degrades (it will sound classical, I know). I even asked some friends of mine who teach in different cities and schools, and surprisingly everything is the same. I can say then that it is a global phenomenon. Well if you say that it may be caused by the teacher’s methods (our methods), I will tell you. At my class, I sometimes make some group activities for my students. For example, I asked them to make a group of se...

Oleh- oleh "Bela Negara"

Gambar
  Beberapa waktu lalu, tepatnya 13 November 2018, saya berkesempatan mengikuti sebuah seminar “Bela Negara” yang diselenggarakan oleh Dirjen Potensi Pertahanan dari Kementerian Pertahanan RI. Dari sekian banyak pembicara termasuk TNI, anggota Komisi I DPR RI dll, menurut saya yang paling menarik adalah pembicara terakhir, yaitu Bp. Zaenuri selaku intel dari Polres Pati. Di tengah- tengah pembicaraan, beliau bertanya kepada kami para peserta, “Kira- kira ada tidak Pak, Bu, aliran keras (radikal) di kota Pati ini?” Para peserta kompak menjawab, “Tidaaa…ak.” Karena, kota Pati memang selama ini nampak adem ayem saja. Bapak Zaenuri yang masih cukup muda itu tersenyum lalu kembali melanjutkan, bahwa hal tersebut ternyata ada di Pati ini. Mulai dari yang berniat mengibarkan bendera hitam bertuliskan tauhid sampai yang mengusupkan paham- paham radikalisme ke anak- anak. Saya kaget. Tercekat. Sungguh tidak menyangka bahwa hal seperti itu juga terjadi di kota...